Headlines News :
Home » » KH. Hasyim Asy'ari (Gurunya Pendidik dan Pendiri NU)

KH. Hasyim Asy'ari (Gurunya Pendidik dan Pendiri NU)

Written By Unknown on Kamis, 06 Desember 2012 | 18.45

Kisah kehidupan KH. Hasyim Asy’ari berkisar di lingkungan pesantren. Karena sebagian besar waktu beliau dihabiskan untuk belajar dan mengajar di pesantren. Ia bahkan mengatur “kegiatan-kegiatan politik” dari pesantren. Untuk mengetahui sosok KH. Hasyim Asy’ari secara komprehensif, dibawah ini akan dijelaskan riwayat hidup, latar belakang pendidikan pemikiran dan amal perjuangannya.

Riwayat Hidup
KH. Hasyim Asy’ari adalah keturunan seorang bangsawan Majapahit serta keturunan ‘elit’ Jawa. Muhammad Hasyim itulah nama pemberian orang tuanya, lahir di desa Gedang, sebelah timur Jombang pada tanggal 24 Dzulqo’dah 1287/14 Februari 1871. Ayahnya, Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras di Jombang, sedangkan ibunya Halimah putri Kiai Usman pendiri dan pengasuh dari Pesantren Gedang akhir abad ke-19. Selain itu, moyangnya, Kiai Sihah adalah pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang. Ia banyak menyerap ilmu agama dari lingkungan pesantren keluarganya. Ibu KH. Hasyim Asy’ari adalah anak pertama dari 5 bersaudara, yaitu Muhammad, Leler, Fadil dan Nyonya Arif.1
Silsilah keturunan KH. Hasyim Asy’ari berasal dari raja Brawijaya V1 yang juga dikenal dengan Lembu Peteng (kakek kesembilan). Salah seorang putra Lembu Peteng bernama Jaka Tingkir atau disebut Karebet. Hal ini dapat dilihat dari silsilah beliau, yaitu: Muhammad Hasyim bin Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pangeran Benawa bin Joko Tingkir alias Karebet bin Prabu Brawijaya V1 (Lembu Peteng).2

KH. Hasyim Asy’ari adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara yaitu Nafi’ah, Ahmad Soleh, Radi’ah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Di Pesantren Siwalan, Sidoarjo, tempat dimana KH Hasyim Asy’ari menimba ilmu, oleh Kiai Ya’kub yaitu pengasuh dari pondok tersebut, beliau dinikahkan dengan putrinya Khadijah. Bersama istrinya, beliau menunaikan ibadah haji dan menetap disana. Baru satu tahun disana istri meninggal kemudian disusul putranya yang baru berusia 2 bulan. Setelah itu, KH. Hasyim Asy’ari kembali ke tanah air. Pada tahun 1893 beliau kembali ke Hijaz bersama Anis, adiknya yang tak lama kemudian juga meninggal disana. Beliau di Mekkah sampai 7 tahun.
Lathiful Khuluq menjelaskan bahwa KH. Hasyim Asy’ari menikah 7 kali, semua istrinya adalah putri kiai sehingga beliau sangat dekat dengan para Kiai. Di antara mereka adalah Khadijah, putri Kiai Ya’kub dari Pesantren Siwalan. Nafisah, putra Kiai Romli dari Pesantren Kemuring, Kediri. Nafiqoh, yaitu putri Kiai Ilyas dari Pesantren Sewulan Madiun. Masruroh, putra dari saudara Kiai Ilyas, pemimpin Pesantren Kapurejo, Kediri,3 Nyai Priangan di Mekkah.
KH. Hasyim Asy’ari mempunyai 8 anak perempuan dan 6 anak laki-laki. Anak-anak perempuan beliau adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Ummu Abdul Haq, Masrurah, Khadijah dan Fatimah.4 Sedangkan anak laki-lakinya adalah Abdullah, meninggal di Mekkah sewaktu masih bayi, Abdul Wahid Hasyim, Abdul Hafidz, yang lebih dikenal dengan Abdul Khalik Hasyim, Abdul Karim, Yusuf Hasyim ,Abdul Kadir dan Ya’kub. 5
KH. Hasyim Asy’ari sangat dihormati oleh kawan bahkan lawannya. Gurunya, Kiai Kholil Bangkalan juga menunjukkan rasa hormat kepada beliau dengan mengikuti pengajian-pengajian yang dilakukan KH. Hasyim Asy’ari pada bulan Ramadhan.6
Beliau dianggap sebagai guru dan dijuluki “Hadratus Syekh” yang berarti “Maha Guru7. Kiprahnya tidak hanya di dunia pesantren, beliau ikut berjuang dalam membela negara. Semangat kepahlawanannya tidak pernah kendor. Bahkan menjelang hari-hari akhir hidupnya, Bung Tomo dan panglima besar Jendral Soedirman kerap berkunjung ke Tebuireng meminta nasehat beliau perihal perjuangan mengusir penjajah.8
KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia pada tanggal 7 Ramadhan 1366/25 juli 1947 karena terkena tekanan darah tinggi. Dimasa hidupnya beliau mempunyai peran yang besar dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren, baik dari segi ilmu maupun garis keturunan. Sedangkan dalam perjuangannya dalam rangka merebut kemerdekaan melawan Belanda, beliau gigih dan punya semangat pantang menyerah serta jasa-jasanya kepada bangsa dan negara sehingga beliau diakui sebagai seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional.9

Latar Belakang Pendidikan
Pada pertengahan abad ke 20, terdapat 2 sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Pertama adalah sistem pendidikan pesantren, yang di sediakan untuk para muslim yang memfokuskan pengajarannya pada ilmu agama. Kedua adalah sistem pendidikan Barat yang diterapkan oleh kolonial Belanda (Holland Inlandsche Scholen) yang didirikan awal tahun 1914. Hanya anak-anak keluarga priyayi yang dapat sekolah disana. Dan itupun hanya tujuh tahun. Jadi, karena pembatasan pemerintah dan keyakinan kaum muslim, institusi pendidikan yang tersedia bagi mayoritas penduduk pribumi hanyalah pesantren.10
Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari tidak berbeda dengan kebanyakan muslim lainnya. Kita telah ketahui awal pendidikan beliau yang mulai dari pesantren. Karena kecerdasan dan ketekunannya, pada usia 13 tahun, dibawah bimbingan ayahnya, beliau mempelajari dasar-dasar tauhid, fiqh, tafsir dan hadits. Bahkan sudah berani membantu mengajar santri-santri ayahnya.
Pada umur 15 tahun, beliau mulai berkelana mencari pengetahuan agama Islam ke beberapa pesantren, sebut saja Pesantren Wonokoyo-Probolingga, Pesantren Langitan-Tuban, Pesantren Trenggilis-Semarang, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura dan Pesantren Siwalan-Surabaya. Di Bangkalan beliau belajar tata bahasa, sastra Arab, fiqh dan sufisme dari Kiai Khalil selama 3 bulan. Sedangkan di Siwalan, beliau lebih memfokuskan pada bidang fiqh selama 2 tahun, dengan Kiai Ya’kub. Diperkirakan KH. Hasyim Asy’ari pernah belajar bersama dengan Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, di Semarang.11
Kemudian KH. Hasyim Asy’ari pergi ke Hijaz guna melanjutkan pelajarannya disana. Semula beliau belajar dibawah bimbingan Syekh Mahfudz dari Termas, Pacitan. Syekh Mahfudz adalah ahli hadits, beliau orang Indonesia pertama yang mengajar Shahih Bukhari di Mekkah. Dari beliau KH. Hasyim Asy’ari mendapat ijazah untuk mengajar Shahih Bukhari. Di bawah bimbingannya, KH. Hasyim Asy’ari juga belajar tariqot qadariyah dan naqsyabandiyah. Ajaran tersebut diperoleh Syekh Mahfudz dari Syekh Nawawi dan Syekh Sambas.
Jadi, Syekh Mahfudz merupakan penghubung pembentuk tradisi yang menghubungkan Syekh Nawawi dari Banten dan Syekh Sambas dengan K.H. Hasyim Asy’ari. Pengaruh ini dapat ditemukan dalam pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari. Silsilah intelektual beliau dapat dilihat dalam diagram. 

Murid Syekh Khatib banyak yang menjadi ulama terkenal, baik dari kalangan NU maupun dari kalangan yang lain, misalnya, KH. Hasyim Asy’ari sendiri, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syamsuri, KH. Ahmad Dahlan (tokoh Muhammadiyah), Syekh Muh. Nur Mufti dan Syeh Hasan Maksum masih banyak lagi.12
Di bawah bimbingan Ahmad Khatib yang juga seorang ahli astronomi, matematika dan al-Jabar, KH. Hasyim Asy’ari juga belajar fiqh madzhab Syafi’i. Ahmad Khatib tidak setuju dengan pembaharuan Muhammad Abduh mengenai pembentukan madzhab fiqh baru, beliau hanya setuju pada pendapatnya mengenai tarekat. Atas izin dari beliaulah KH. Hasyim Asy’ari mempelajari tafsir Al-Manar karya Abduh.
Dalam hal ini, KH. Hasyim Asy’ari tidak menganjurkan kitab ini dibaca oleh muridnya, karena Abduh mengejek ulama tradisionalis karena dukungan-dukungan mereka pada praktek Islam yang dianggap tidak dapat diterima. KH. Hasyim Asy’ari setuju dengan dorongan Abduh untuk meningkatkan semangat muslim, tapi tidak setuju dengan pendapat Abduh untuk membebaskan umat dari tradisi madzhab. Berbeda dengan Abduh, KH. Hasyim Asy’ari percaya bahwa tidak mungkin memahami al-qur’an dan hadis tanpa memahami perbedaan pendapat pemikiran hukum. Penolakan terhadap madzhab, menurut beliau, akan memutarbalikkan ajaran Islam.13
Dalam perkembangan selanjutnya, Kiai Hasyim menjadi pemimpin dari kiai-kiai besar di tanah Jawa. Menurut Zamachsari, setidaknya terdapat empat faktor penting yang melatarbelakangi watak kepemimpinan beliau. Pertama, ia lahir ditengah-tengah Islamic revivalism baik di Indonesia maupun di Timur tengah, khususnya di Mekkah. Kedua, orang tua dan kakeknya merupakan pimpinan pesantren yang punya pengaruh di Jawa Timur. Ketiga, ia sendiri ia dilahirkan sebagai seorang yang sangat cerdas dan memiliki kepemimpinan. Keempat, berkembangnya perasaan anti kolonial, nasional Arab, dan pan-Islamisme di dunia Islam.14 Dari faktor-faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa KH. Hasyim Asy’ari mempunyai potensi dan keturunan untuk menjadi orang besar.

Amal dan Perjuangan
Kiprah beliau diberbagai bidang pendidikan, kemasyarakatan, sosial dan politik merupakan cerminan dari praktek keagamaan beliau. Dalam bidang-bidang inilah beliau menunjukkan perjuangannya.
Pertama, dalam bidang pendidikan, perjuangan beliau diawali dengan mendirikan pesantren di daerah Tebuireng, daerah terpencil dan masih dipenuhi kemaksiatan. Tepatnya tanggal 12 Rabi’ al Awwal 1317 H atau tahun 1889M, pesantren Tebuireng berdiri dengan murid pertama sebanyak 28 orang. Berkat kegigihan beliau pesantren Tebuireng terus tumbuh dan berkembang serta menjadi innovator bagi pembaharuan pendidikan Islam tradisional di tanah air.15
Pesantren ini merupakan cikal bakal penggemblengan ulama dan tokoh-tokoh terkemuka sekaligus merupakan monumental ilmu pengetahuan dan perjuangan nasional.
Kedua, perjuangannya dalam bidang kemasyarakatan. Dalam bidang ini kiprah beliau diwujudkan dengan mendirikan Jami’iyah Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 bersama sejumlah kiai. 16 Bahkan beliau ditunjuk sebagai Syeikhul Akbar dalam perkumpulan ulama terbesar di Indonesia ini. Organisasi ini didirikan pada hakekatnya bertujuan karena belum adanya suatu organisasi yang mampu mempersatukan para ulama dan mengubah pandangan hidup mereka tentang zaman baru. Kebanyakan mereka tidak perduli terhadap keadaan di sekitarnya.
Bangkitnya kaum ulama yang menggunakan NU sebagai wadah pergerakan, tidak dapat dilepaskan dari peran KH. Hasyim Asy’ari. Ia berkeyakinan, bahwa tanpa persatuan dan kebangkitan ulama, terbuka kesempatan bagi pihak lain untuk mengadu domba. Selain itu didirikannya NU bertujuan untuk menyatukan kekuatan Islam dengan kaum ulama sebagai elit perubahan, memudahkan konsolidasi dan koordinasi segala kegiatan ummat Islam, terutama dalam bidang pendidikan yang terdapat dalam lingkungan pondok pesantren.17
Dengan Nahdhatul Ulama, ia berjuang mempertahankan kepentingan umat. Disatukannya potensi umat Islam menjadi kekuatan kokoh dan kuat, tidak mudah menjadi korban oleh kepentingan politik yang hanya mencari kedudukan dengan mengatasnamakan Islam.18
Ketiga, bidang ekonomi, perjuangan KH. Hasyim Asy’ari juga layak dicatat dalam bidang ekonomi. Perjuangan ini barangkali adalah cerminan dari sikap hidup beliau, dimana meskipun zuhud, namun tidak larut untuk melupakan dunia sama sekali. Tercatat bahwa beliau adalah juga bekerja sebagai petani dan pedagang yang kaya. Perjuangan beliau dalam bidang ekonomi ini diwujudkan dengan merintis kerjasama dengan pelaku ekonomi pedesaan. Kerjasama itu disebut Syirkah al Inan Li Mubarakath Ahli al Tujjar. Bentuknya mirip koperasi tapi dasar operasionalnya menggunakan Syari’at Islam. Badan usaha ini kemudian berkembang dengan lahirnya Nahdlatul Tujjar sebagai wadah para pengusaha Islam, khususnya kalangan santri.19
Keempat, bidang politik. Kiprah beliau dalam bidang ini ditandai dengan berdirinya wadah federasi umat Islam Indonesia yang diprakarsai oleh sejumlah tokoh Indonesia yang kemudian lahirlah Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang menghimpun banyak partai, organisasi dan perkumpulan Islam dalam berbagai aliran. Lembaga ini menjadi Masyumi yang didirikan tanggal 7 November 1945, yang kemudian menjadi partai aspirasi seluruh umat Islam.
Sedangkan perjuangan beliau dimulai dari perlawanannya terhadap penjajahan Belanda. Acapkali beliau mengeluarkan fatwa-fatwa yang sering menggemparkan pemerintah Hindia Belanda. Misalnya, ia mengharamkan donor darah orang Islam dalam membantu peperangan Belanda dengan Jepang.
Pada masa pendudukan Jepang, KH. Hasyim Asy’ari memimpin MIAI (Majlis Islam Ala Indonesia). Demikian pula dalam gerakan pemuda dan kelasykaran, seperti Hizbullah, Sabilillah dan semacamnya, beliau menjadi penasehat dan pemimpin umum.
Pada masa revolusi, banyak pemimpin militer dan sipil yang datang kepadanya, seperti Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Kedatangan mereka itu memberikan laporan tentang perkembangan situasi dan mohon nasehat tentang jalannya revolusi fisik pada waktu itu.20

Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari
Kecerdasan dan keilmuan Kiai Hasyim selama berkelana menimba ilmu keberbagai tempat dan ke beberapa guru dituangkan dalam berbagai tulisan. Sebagai seorang penulis yang produktif, beliau banyak menuangkannya ke dalam bahasa Arab, terutama dalam bidang tasawuf, fiqih dan hadits. Sebagian besar kitab-kitab beliau masih dikaji diberbagai pesantren, terutama pesantren-pesantren salaf (tradisional). Diantara karya-karya beliau adalah sebagai berikut:
  1. Adabul ‘Alim wal Muta’alim.
Menjelaskan tentang etika seorang murid yang menuntut ilmu dan etika guru dalam menyampaikan ilmu. Kitab ini diadabtasi dari kitab Tadzkiratu al Sami’ wa al Mutakallim karya Ibnu Jamaah al Kinani.
  1. Ziyadah Ta’liqat.
Berisi tentang penjelaskan atau jawaban terhadap kritikan KH. Abdullah bin Yasin al Fasuruwani yang mempertanyakan pendapat Kiai Hasyim memperbolehkan, bahkan menganjurkan perempuan mengenyam pendidikan. Pendapat Kiai Hasyim tersebut banyak disetujui oleh ulama-ulama saat ini, kecuali KH. Abdullah bin Yasin al farasuruwani yang mengkritik pendapat tersebut.
  1. Al-Tanbihat Al-Wajibah Liman Yasna’ Al-Maulid bi Al-Munkarat.
Berisi tentang nasehat-nasehat penting bagi orang-orang yang merayakan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang dilarang agama.
  1. Risalah Al-Jama’ah (kitab lengkap).
Membahas tentang beragam topik seperti kematian dan hari pembalasan, arti sunnah dan bid’ah, dan sebagainya.
  1. An-Nur Al-Mubin Fi Mahabbati Sayyid Al Mursalin.
Menjelaskan tentang arti cinta kepada Rasul dengan mengikuti dan menghidupkan sunnahnya. Kitab ini diterjemahkan oleh Khoiron Nahdhiyin dengan judul Cinta Rasul Utama.
  1. Hasyiyah ‘Ala Fathi Syeh Zakaria Al-Ansori Al-Rahman Bi Syarh Risalah Al-Wali. Merupakan komentar terhadap al Risalah al Wali Ruslan karya Syekh al Islam Zakaria al Anshari.
  2. Al Durar Al-Munqatirah Fi Al-Masa’il Tis’a ‘Asyara (mutiara-mutiara berharga tentang masalah-masalah sembilan belas). Berisi uraian tentang tareqat dan persoalan-persoalan penting untuk tariqat. Bersama kitab ini juga beliau menulis kitab Tamyiz al Haq ‘An al Bathil. Keduanya sama-sama menjelaskan tata cara mengamalkan agama yang benar dan koreksi terhadap pandangan-pandangan yang keliru.
  3. Al-Tibyan Fi Nahyi ‘An Muqatha’ati’ Al-Arkam wa Al-‘Aqarib Wa Al-Ikhwan. Berisi tentang pentingnya menjaga silaturrahmi dan larangan memutuskannya. Dalam wilayah sosial politik, kitab ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Kiai Hasyim dalam masalah Ukhuwah Islamiyah.
  4. Al Risalah Al-Tauhidiyah (catatan teologi).
    Merupakan pembahasan terhadap teologi Ahlussunnah wal jama’ah.
  1. Al Qalaid fi Bayani Ma Yujibu Min Al- Aqa’id. 
    Memuat syair-syair yang berkaitan dengan apa yang seharusnya dipahami tentang akidah.
1 Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama Biografi KH. Hasyim Asy’ari, LkiS, Yogyakarta, 2000, hlm. 14.
2 Chairul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, Bisma Satu, Surabaya, 1999, hlm.62.
3 Lathiful Khuluq, Op. Cit, hlm. 16-17.
4T.H. Thalhas, Alam Pikiran KH. Ahmad Dahlan dan KH. M Hasyim Asy’ari, Galura Pase, Jakarta, hlm.100.
5 Ibid
6 Chairul Anam, Op.Cit, hlm. 19
7 Ibid, hlm. 62.
8 Ibid, hlm. 63
9 Zamachsari Dhofier, Op. Cit, hlm. 98.
10 Lathiful Khuluq, Op. Cit , hal: 22.
11 Ibid, hal: 23-24.
12 Saifullah Ma’shum, Kharisma Ulama; Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU, Mizan, Bandung: 1998, hlm.73.
13 Lathiful Khuluq, Op. Cit, hlm. 26.
14 Humaidy Abdussami dan Ridwan Fakla AS, Biografi 5 Rais ‘Am Nahdlotul Ulama, LTN bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm.2.
15 Saifullah Ma’shum, Op. Cit, hlm. 74.
16 Suyanto, Konsep Pendidikan Islam dalam Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dan telaah terhadap Progressivisme (Sebuah Kajian Komparasi), Skripsi tidak diterbitkan, UII, Yogyakarta, 2000, hlm.43.
17 TH. Thalhas, Op. Cit.,hlm. 122.
18 Ibid, hlm. 128
19 Suyanto, Op. Cit., hlm. 43.
20 T.H. Thalhas, Op. Cit.,hlm.130.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Radio NU Online

ANSORUNA - Ikhtiar Melawan Lupa

×

Popular Posts

PAC GP ANSOR GENUK



 
Support : Warta Madani | Sciena Madani | Ansoruna
Proudly powered by PAC GP Ansor Genuk Semarang
Copyright © 2011. Ansoruna - GP Ansor Genuk Semarang - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template