Headlines News :
Home » » Manusia; Telaah Atas Surat At-Tin

Manusia; Telaah Atas Surat At-Tin

Written By Unknown on Selasa, 16 April 2013 | 19.42

INI adalah sebuah karunia Allah Swt, kita dapat hadir dalam ghurfatus syarifah (tempat yang mulya). Sebagai orang yang beragama dan ingin mendapatkan kebahagian (falah) dunia akhirat, seperti doa yang sering kita panjatkan, yakni Rabbana Atina Fiddunya Hasanah Wa Fil Akhiroti Hasanah Wakina ‘Adza Bannar. Maka suatu keharusan bagi pemeluknya untuk mengkaji dan menelaah kitab suci-NYA. Insya Allah kehadiran kita pada majelis ini merupakan niatan untuk hal tersebut: lurus untuk rela menambah dan mengingat kefaqihan kita, dengan jumpa kita kali ini benar-benar menjadikan kita semakin fakih.

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt. Kajian kita kali ini akan kita mulai dengan penguraian fungsi dari huruf, kalimah (kata) dan jumlah (kalimat). Kemudian menggunakan kajian tafsir tematik (penguraian tema pokok). Jika kita tilik atas surat at-Tin, maka kita akan menemukan tema pokok dari ayat tersebut, yaitu tentang manusia. Dengan awalan Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim kita mulai kajian kita:
والتين والزيتون . وطورسيني . وهذاالبلدالامين
"Demi buah Tin, dan buah Zaitun, dan Bukit Tursina, serta Kota (Mekkah) yang aman ini".
Dari ketiga surat di atas dapat kita jumpai satu wau qosam,1 di awal kata at-Tin dan dua wau ma'tufah, yaitu di awal kata Zaitun dan thurisinina, serta satu wau 'Athof , yaitu di awal isim isaroh hadza.2 Lalu mengapa Allah Swt sampai bersumpah? Sesungguhnya sumpah Allah Swt di dalam al-Quran untuk menyatakan kesungguhan; kebenaran maupun penguatan suatu pernyataan.
Maksud lain dari sumpah Allah SWT atas Tin (Fig), kemudian dengan Zaitun, disusul dengan Thur Sina (Bukit Sinai) dan kota yang amin (aman santosa), yakni Makkah. Konon, Tin melambangkan kebudayaan Romawi-Yunani (Graeco-Roman) sebab pohon Tin banyak tumbuh di dua wilayah tesebut. Sedang pohon Zaitun banyak tumbuh di Syria-Palistina mewakili agama Nasrani, sebab pada masa Nabi Muhammad Saw orang-orang dari daerah tersebut memeluk agama Nasrani.

Lalu, untuk Bukit Sinai adalah tempat Nabi Musa as menerima “Perintah yang Sepuluh”. Adapun Makkah menunjuk kepada agama Nabi Muhammad Saw, sebagai pesan penutup. Jadi sumpah Allah Swt mengingatkan pentingnya unsur-unsur budaya dan agama bagi umat manusia.1
لقد خلقناالانسان فىاحسن تقويم
 

" Sungguh Kami telah buat (ciptakan) manusia dalam bentuk yang sangat (paling) baik lagi sempurna."
Di awal jumlah (kalimat) ayat tersebut ada Lam jawab, yaitu lam yang merupakan jawaban dari sumpah Allah SWT pada ayat sebelumnya. Kata Qod setelah lam jawab merupakan bentuk tahqiq (untuk menyatakan kesungguhan atau kebenaran dari apa-apa yang telah dikerjakan) sebelum kata kerja lampau (fi'il madhiy).Kemudian diikuti Kholaqna, yang terdiri dari dua partikel kata, yaitu Kh-l-q (menjadikan; membuat; menciptakan; menserasikan; menetapkan; menyelaraskan; mengharmoniskan),2 dan na (merupakan kata ganti Kami).
 

Lalu, mengapa Allah SWT yang Maha Kuasa harus membuat redaksi dengan kata "Kami" tidak "Saya"(Ta maiyah)? Na (Kami) disini untuk memulyakan diri sendiri, dan untuk menunjukkan kekuasaan Allah SWT. Sebagaimana contoh seorang Raja yang bertitah, " Telah kami kirim sepasukan berkuda dengan senjata lengkap untuk menghancurkan para separatis di….." Jadi kata kami yang diucapkan oleh Raja tersebut untuk mengagungkan dirinya sendiri dan untuk menunjukkan kekuatannya, sebagaimana Na (Kami) pada ayat ke-4 di atas. 

Namun ada yang berpendapat Na (Kami) pada surat tersebut menunjukkan bahwa proses penciptaan manusia secara umum melibatkan kedua orang tua kita. Hal ini dapat dilihat ketika Allah SWT menciptakan Adam, Allah Swt mengkhitobi diri-Nya sendiri denga Saya, " Inniy Kholiqun Basyaran Min Thin (bahwasanya Aku akan jadikan manusia dari tanah)."3 Untuk kata al-Insana (manusia),4 "al" di depan kata insan merupakan al ta'rif (the definite article yang mempunyai arti keseluruhan atau lil istighrog). Jadi semua manusia, baik dari bangsa manapun dan apapun warna kulitnya sama, yaitu dijadikan Allah dalam bentuk yang sempurna (Fiy Ahsani Taqwim).
Kembali ke kata insan. Menurut Quraish Shihab, kata insan terambil dari kata uns (jinak, harmonis, dan tampak). Hal ini lebih tepat dari sudut pandang al-Quran dari yang berpendapat bahwa, insan berasal dari kata nasiya (lupa), atau nasa-yanusu (berguncang). Kata insan, digunakan al-Quran untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga.5 Sedangkan kata Ahsan merupakan bentuk tafdhil (sifat yang dilebihkan). Jadi ahsan berarti lebih baik. Sedang kata taqwim berarti sesuatu yang mempunya fungsi dan kegunaan sesuai dengan obyeknya.
ثم رد د نه اسفل سافلين
“Lalu Kami kembalikan manusia ke tempat yang paling (sangat) rendah.”
Pada ayat ke-5, di awal jumlah (kalimat) terdapat huruf ‘atof yaitu tsumma yang berfungsi sebagai tartib. Kemudian berangkai dengan kata radadnahu yang terdiri dari tiga partikel yaitu radad yang terambil dari kata r-dd atau r-d-d yang berarti mengembalikan,6 dan Na, yang penjabarannya seperti Na pada kata kholaqna sebagaimana ayat ke-4 di atas, serta kata hu merupakan dhomir mutashil yang menggantikan kata insan. Sedangkan Asfala Safilina berkedudukan sebagai dzorof makan (menunjukkan kedudukan atau tempat) yang bertafdhil (dilebih-lebihkan).
الاالذين امنوا وعملوالصلحت فلهم اجر غيرممنون
“Kecuali (selain) orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Maka bagi (hanya untuk) mereka (orang–orang yang beriman dan beramel saleh) karunia (kebajikan; kebaikan) yang (terus) mengalir (tiada putus-putus).”
Untuk ayat ke-6 dari surat at-Tin. Di awal jumlah ada “Illa”, yang berfungsi sebagai istitsna (dalam keterbatasan bahasa Indonesia berarti kecuali atau dapat diartikan selain). Kemudian diikuti kata al-lazina yang berkedudukan sebagai isim maushul (= yang). Sedang kata amanu, merupakan fi’il madhi yang memakai wau jama’ah yang menunjukkan arti orang ke-3 banyak. Amanu terambil dari kata a-m-n (aman; tentram; jujur).7
Lalu, Wa ‘Amilu as-Sholihati. Wau berkedudukan sebagai ma’tufah (pembuka) atas kata amanu. Untuk ‘amilu sendiri juga harus menggunakan wau jama’ah, hal ini sebagai konsekwensi adanya wau ma’tufah. Untuk ‘Amilu terambil dari kata‘A-m-l (perbuatan; pekerjaan).8 Selanjutnya kata Falahum, terdiri dari tiga partikel yaitu fa, sebagai fa isti’-nafih atau berkedudukan sebagai fa jawab (dapat berarti maka).
 

Kemudian lam, sebagai lam Li Ajli (= hanya untuk) yang tergolong dari lam jar. Dan kata hum, merupakan dhomir ghoibain (bentuk kata ganti orang ke-3 banyak= mereka). Sedangkan kata ajrun terambil dari kata j-r-y (mengalir; berjalan; berlari).9 Jumlah (sentence/ kalimat) pada ayat ini di akhiri dengan kata ghoiru mamnunin. Merupakan bentuk dari sifat yang diidhofahkan, mamnunin terambil dari kata m-nn (mengkaruniai).10 atau mi-nn (kebaikan; kebajikan).11
فمايكذ بك بعد بالدين
“Maka apakah kamu akan mendustakan (berbohong) setelah dengan jelas ada imbalan dan hukuman (perhitungan).”
 

Ayat ke-7 dari surat at-Tin diawali dengan huruf “ fa ” yang berkedudukan sebagai fa isti’nafih (= maka). Kemudian ma yang berkedudukan sebagai isim istifham (= kata tanya). Lalu, yukadzib yang merupakan fi’il mudhori’ dan terambil dari kata k-dz-b (mendustakan; berbohong). Sedang “Kaf” merupakan kata ganti orang ke-2 tunggal (= kamu).
 

Ba’du, berkedudukan sebagai keterangan waktu (zhorof zaman = setelah; sesudah). Adapun Bi ad-Din terdiri dari huruf ba yang berfungi sebagai huruf jar dan berkedudukan sebagai taukid (penguat; penegas).12 Sedangkan ad-Din terambil dari kata d-y-n (memberi penilaian; menetapkan hukum; keadaan berhutang; terpidana atau sedang menerima imbalan dan hukuman). Namun para mufasir kebanyakan mengkiaskan sebagaimana kata ad-Din pada surat al-Fatihah yaitu, sebagai Yaum al-Hisab; Yaum al-Jaza; Yaum al-Qiyamah.
اليس الله باحكم الحكمين
“Bukankah Allah Swt penguasa yang paling bijaksana.”
 

Ayat ke-8 (terakhir) dari surat at-Tin dimulai dengan alif istifham (alif yang digunakan untuk bertanya). Kemudian laysa (= bukan) berkedudukan sebagai dhomir ghoib. Lalu diikuti kalimah Allah yang merupakan lafazh al-jalalah (yang diagungkan). Kemudian bi ahkam, sedang ba berkedudukan sebagai huruf jar dan berfungsi sebagai ta-kid. Adapun hakim terambil dari kata h-k-m (penguasa; pengambil kebijakkan).13 Sedangkan kata al-hakimin. Untuk Al berfungsi lil ma’rifah. Sedang hakimin terambil dari pecahan partikel dari akar kata h-k-m yang beralih bentuk menjadi hukum (menjadi bijaksana).
 

Surat at-Tin tergolong sebagai surat makiyyah, turun setelah surat al-Buruj, at-Tin turun diurutan ke-27. Surat ini dalam redaksi al-Quran diletakkan setelah surat alam nasyroh yang turun diurutan ke-8. Walaupun tenggang waktunya sangat lama namun mempunyai keterkaitan. Kalau surat alam nasyroh merupakan tasliyah (penghibur hati) bagi Rosulullah Muhammad SWA, dan berisi tentang keterangan akan tugas kenabian. Sedang pada surat at-Tin Allah SWT menerangkan bahwa manusia mempunya potensi untuk baik (maka manusia akan menjadi mulya) dan dapat juga buruk (maka manusia yang demikian akan dihinakan dengan keburukannya sendiri).
 

Allah SWT telah menjadikan manusia secara alamiah melalui proses persenyawaan kimiawi dari unsur-unsur yang ada pada tanah (baca alam).14 Kemudian, jika diorganisasi dalam diri manusia akan menghasilkan sulalat (sperma atau air mani). Lalu ketika masuk ke dalam rahim akan mengalami proses kreatif.15 Dan kemudian ditiupkan ruh Allah SWT.16 Kemudian dijadikan kholifah.17 Maka oleh Allah SWT, manusia diberi beberapa kelengkapan.
 

Pertama, nafs yang dapat menangkap makna baik dan buruk (positif dan negatif).18 Nafs juga sebagai wadah (tempat) yang berisi gagasan dan kemauan,19 bahkan hal-hal yang tersembunyi.20 Maka manusia dituntut untuk menjaga kesucian nafs.21
 

Kedua, qolb yang mempunyai kisi-kisi kasih sayang, takut, keimanan dan tempat pengajaran.22 Menurut Quraish Shihab, perbedaan nafs dan qolb adalah, kalau nafs sebagai wadah yang di dalamnya ada hal yang tak disadari sedang qolb menampung hal yang disadari.23 Lebih lanjut beliau mengulas nafs adalah sisi dalam manusia dan qolb pun demikian, hanya saja qolb berada dalam satu kotak tersendiri.24
 

Sehingga ketika seseorang k-f-r (dibaca kafir = lari/ menutup) dari kebanaran yang telah ditampakkan oleh Allah SWT, maka qolb akan dikunci oleh Allah Swt.25 Sehingga wajar ada kunci-kunci penutup qolb.26 Qolb juga dapat diperbesar kapasitasnya dengan amal kebajikan, dan dapat dipersempit dengan segala perbuatan buruk.27 Sebagaimana nafs, qolb juga harus dijaga kesuciannya, agar dapat menangkap pengetahuan yang hakiki. Qolb dapat juga sebagai alat pembanding,28 dan untuk menghidari dari rasa takut hendaklah manusia selalu mengingat Allah SWT.29
 

Ketiga, ruh. Kata ruh dalam al-Quran terulang sebanyak dua puluh empat kali, dengan berbagai bentuk kata jadiannya dan makna, serta tidak semua berkaitan dengan manusia. Ruh merupakan misteri tersendiri.30 Keempat, ‘aql. Terambil dari kata ‘a-q-l (mengikat).31 ‘Aql juga dapat dipahami sebagai dorongan moral,32 kekuatan untuk memahami,33 dan kekuatan untuk mengambil pelajaan.34 Dari keempat potensi tersebut yang telah disematkankan kepada manusia, seyogyanya dijaga kesuciannya. Sebab secara fitrah manusia manusia ingin selalu berlaku terpuji dan kembali dekat dengan penciptanya. 

Kembali ke surat at-Tin. Surat yang menggambarkan potensi manusia. Redaksinya dibuka dengan sumpah Allah Swt , kemudian memuji ciptaannya sendiri (ahsani taqwim). Tetapi Allah Swt juga mengingatkan bahwa manusia dapat terjerembab dalam kubangan yang dalam (asfala safilin). Kecuali bagi mereka yang beriman,35 dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik lagi bermanfaat (aminiu wa ‘amilu ash-sholihat).36 Manusia demikianlah yang oleh Allah Swt akan dianugrahi kebajikan dalam hidup dan kehidupan yang abadi. Manusia yang melakukan kebaikan secara spikologis atau spikis akan mempunyai kecenderungan untuk mengulang, demikian juga sebaliknya jika melakukan kerusakan; keburukan; aniaya, manusia mempunyai kecenderungan untuk mengulangnya kembali.37
 

Kecenderungan buruk manusia tersebut oleh Allah Swt akan selalu di tambah,38 dan bagi mereka yang demikian tidak akan mendapat petunjuk, kecuali bila bertobat. Dengan demikian, apakah manusia masih dapat mendustakan atau dengan kata lain kafir dari kebenaran setelah adanya (bukti) imbalan dan hukuman yang jelas. Akhirnya surat ini ditutup dengan redaksi yang menguatkan bahwa Allah SWT merupakan pengambil keputusan yang paling adil (bijaksana). Karena segala imbalan dan hukuman manusia merupakan cerminan perbuatan mereka sendiri. Akhirnya tak ada ruginya bila kita selalu Wa Ta’awanu ‘Ala al-Birri Wa at-Taqwa (tolong menolong atas kebajikan dan taaqwa) Wa Fastabikul Khairat (dan berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan) dalam hubungan sosial kita. Semoga Allah Swt menunjukkna jalan yang benar bagi kita semua. Dan hanya kepada-Nya kami berserah diri dan hanya kepada-Nya kami minta pertolongan. Aamiiin
 

Demikianlah para hadirin yang dimulyakan oleh Allah Swt. Semoga dari yang sedikit ini menghantar kita pada falah yang sesungguhnya sebagaimana doa yang telah saya nukil di atas. Akhirnya apabila ada kekhilafan dari diri kami selaku pribadi baik dalam sikap maupun bertutur kata, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. @ thank asa ina & d’ uden too.29/11.1423 (1/2003) sabtu.


Bahan Bacaan

Al-Quran.
Abdul Al-Wahid Sholih, Al -I’rab al-Mufasshil li kitabillah al-murattal., Beirut: Darul Fikr, 1993.
Ahmad Tafsir, Rukun Islam Sebagai Maqomat Menuju Tuhan (makalah).
Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir (Kamus Arab- Indonesia). Surabaya: Pustaka Progresif. Cet. XIV. 1997.
Ali al-Jarim dam Musthofa Amin, an-Nahwu al-Wadheh Juz III. (Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah).
Bisri Musthofa, Li Alfiyyah Ibnu Malik (terj). Kudus: Maktabah Wa Mathba'ah Menara Kudus. t.th.
Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Quran (terj). Bandung: Pustaka. Cet. II. 1417 H- 1996 M.
Imam Jalaludin Muhammad bin Ahmad, Tafsir al-Quran al-'Azhim. Semarang: Toha Putra. t.th.
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran. Bandung: Mizan, 1999.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Radio NU Online

ANSORUNA - Ikhtiar Melawan Lupa

×

Popular Posts

PAC GP ANSOR GENUK



 
Support : Warta Madani | Sciena Madani | Ansoruna
Proudly powered by PAC GP Ansor Genuk Semarang
Copyright © 2011. Ansoruna - GP Ansor Genuk Semarang - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template